Komunitas
Selasa, 28 April 2015 - 10:04:57 | ansori / Sorot Purworejo

Perempuan Lebih Condong Jadi Penulis Prosa, Daripada Penyair
 Perempuan Lebih Condong Jadi Penulis Prosa, Daripada Penyair
Sarasehan Sastra di Aula PKK

Purworejo, (sorotpurworejo.com)--Penerbitan buku kumpulan puisi perempuan akhir-akhir ini kian menunjukkan adanya kebangkitan kepenyairan perempuan. Namun, ada pula kecenderungan minat perempuan yang lebih besar sebagai penulis prosa daripada penyair, seperti roman dan novel. Dibandingkan dengan puisi, bagi perempuan prosa dinilai lebih mudah menjadi media ungkapan sebuah nalar dan rasa.

Hal itu dilontarkan penyair sekaligus budayawan asal Purworejo Soekoso DM saat menyampaikan orasi singkatnya dalam Sarasehan Sastra yang digelar Kelompok Peminat Seni Sastra (Kopisisa) Purworejo di Aula PKK, Minggu kemarin (26/04/2015).

“Apakah ini juga cerminan bahwa kebanyakan perempuan memiliki kemampuan berorasi daripada kebanyakan pria?" katanya.

Soekoso juga sempat mengisahkan perjalanan sastra perempuan di Purworejo. Menurutnya, sejak berdirinya Kopisisa Purworejo, mulai bermunculan sejumlah penyair perempuan, diantaranya al. Wiwik AS, Dwimulat Marhaeningrum, dan Choen Supriyatmi pada dekade 1980-an. Namun, kecuali Choen, mereka tak melanjutkan bakat kepenyairannya.

Pada tahap selanjutnya, yakni dekade 1990 hingga 2000-an, muncul Surtini Hadi yang pernah mewarnai media Horison, Wiyatmi, Kristina Kusuma Indrawati, dan Ambarwati. Sementara hingga tahun 2014 lalu, tercatat nama-nama penyair muda diantaranya, Anteng Surani, RK Dewi, Sasmita Paramita, Herning Puspitarini, dan Gita Fitri Larasati.

Datang dan perginya minat bersastra merupakan sesuatu yang sangat alami karena ada yang benar-benar menikmati dan memperoleh manfaat dirinya. Sebaliknya, ada pula yang disebabkan berbagi hal hingga minat terjun ke dunia sastra menurun.

“Bahkan di sisi lain, ada pula yang hanya terus bisa menikmati dan mendukung kegiatan sastra, tetapi tak dapat mencipta karya sastra,” pungkasnya.

Berita Terkait :