Gaya Hidup
Sabtu, 15 Oktober 2016 - 10:43:18 | mukti-ali / Sorot Purworejo

Diary, Pesonamu Kini Tergerus Sosmed
Diary, Pesonamu Kini Tergerus Sosmed
Ilustrasi by net

Purworejo,(sorotpurworejo.com)--Buku Harian atau yang lebih dikenal diary adalah catatan kejadian yang dialami sehari-hari, baik yang sifatnya menyenangkan maupun tidak. Buku diary sering bersifat sangat privasi, karena menyangkut catatan pribadi. Sebagai tempat melukiskan keluh kesah, diary mempunyai segudang cerita pribadi, mulai peristiwa remeh temeh hingga menyangkut persoalan cinta.

Dahulu, catatan para tokoh-tokoh besar sering bermula dari kebiasaanya menulis pada buku harian, baik menyangkut pengalaman hidupnya ataupun seputar kehidupan sosial pada masanya. Namun kini, kebiasaan menulis pada buku harian cenderung mulai ditinggalkan,

Seiring berkembangnya tekonologi dan informasi, masyarakat khusunya generasi muda semakin dimanjakan oleh hadirnya social media. Generasi muda yang dahulu sering tampak menggendong buku diary kini lebih suka menuliskan keluh kesah dan berbagi kebahagiaan pada social media yang makin menjamur.

Ali Wafa (22), pemuda yang tinggal di Kelurahan Sindurjan Kecamatan Purworejo, mengaku sudah mulai meninggalkan kebiasaan lamanya curhat di buku diary. Meski seorang laki-laki, Wafa mengaku dirinya dahulu sangat melankolis. Dalam sehari, kata Wafa, ia mengaku bisa menulis 3-5 kali curhatan di buku diary.

"Itu dahulu, zaman saya masih SMP, bahkan hingga SMA saya masih sering nyurhat di buku diary, namun entah kenapa, rasanya sekarang udah males, saya lebih suka yang praktis, nulis di sosmed," katanya, Sabtu (15/10/2016).

Menurut Wafa, budaya dan perkembangan zaman menuntut generasi muda lupa akan buku diari. Namun Wafa berpendapat, menulis di sosmed cenderung kurang privasi, pasalnya seluruh dunia bisa mengetahui perasaan si penulis saat itu.

"Adik cewek saya yang SMP mungkin tidak pernah nulis di diary, dia seringnya nyetatus di FB, entah kenapa rata-rata muda-mudi saat ini tidak tertarik dengan diary, ya mungkin karena sudah ada yang lebih modern, menggunakan smartphone," terangnya.

"Zaman saya Sekolah, belum ada smartphone semarak dan secanggih hari ini, jadi diary pilihan utama," imbuhnya.

Hal senada diungkapkan oleh Raju Bunga (17) siswa kelas XII salah satu SMAN di Purworeji ini menceritakan, sejak SD hingga SMP dirinya mengaku masih menulis di diary, akan tetapi sejak adanya smartphone yang menawarkan aneka sosmed Bunga mengaku bergeser dari dunia perdiaryan.

"Akhir SMP sudah mulai alay-alay nyetatus di facebook, namun kini lebih sering nulis puisi dibanding nyetatus curhat di sosmed," kata gadis asal Kampung Tuksongo Kecamatan Purworejo ini.

"Tapi bukan karena itu juga si mas, dulu waktu sering nulis diary eh ada yang baca, sehingga sudah muali males, takut privasinya kebaca, jadi lebih suka nulis lewat puisi dengan bahasa satir," cerita Bunga.

Bunga menceritakan, teman-temanya di sekolah pun hampir tidak ada yang menulis di buku diary. Para gadis, lanjut Bunga, lebih sering mencurahkan isi hati dan fikiranya di Sosmed.

Berita Terkait :