Budaya
Senin, 19 Desember 2016 - 07:52:44 | widarto / Sorot Purworejo

Atraksi Api Warnai Khotmil Quran Desa Hardimulyo
Atraksi Api Warnai Khotmil Quran Desa Hardimulyo
Space Iklan
Pasukan abid atau atraksi api.

Kaligesing,(sorotpurworejo.com)--Seperti pada bulan-bulan berkah lainnya, bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud banyak dimanfaatkan warga muslim untuk menggelar berbagai kegiatan Islami. Selain memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, warga muslim juga memanfaatkan bulan Maulud ini untuk mengkhatamkan anak-anaknya yang telah usai atau lulus dalam pendidikan agama.

Seperti yang terjadi di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing. Untuk memeriahkan peringatan Maulud Nabi dan khotmil quran, warga menggelar tradisi karnaval kuda penca atau arak-arakan kuda bagi para santri yang telah khatam mengaji. Dengan diiringi pasukan abid (atraksi api), terbangan sholawatan Jawa, serta pesta kembang api, para peserta berjalan mengelilingi jalan desa sejauh kurang lebih 5 km. Ribuan warga sekitarpun memadati jalan-jalan yang dilalui para peserta karnaval itu.

"Ini sudah tradisi rutin, hampir tiap tahun, namun waktunya bergantian, jika tahun lalu siang hari, tahun ini dilakukan malam hari," kata koordinator karnaval, Jamaludin (29), Minggu (18/12/2016).

Dikatakan, ada sekitar 13 anak baik putra maupun putri yang khatam dan diarak dalam karnaval itu. Mereka melakukan perjalanan dari RT 6 Desa Hardimulyo menuju Desa Sudorogo dan kembali hingga finish di Masjid Baitut Taqwa, tempat anak-anak menggelar khatam dan peringatan maulud nabi.

"Tradisi ini sudah merupakan tradisi yang telah turun menurun, sebagai bentuk syukur para wali murid, karena anak mereka telah khatam Al Quran, dan mereka juga ingin membahagiakan anaknya, yang telah khatam," ujarnya.

Kegiatan itu, lanjutnya, diharapkan bisa menjadi motivasi bagi anak-anak lain, untuk rajin mengaji, sehingga cepat khatam. 

Diungkapkan, dalam setiap gelaran khataman, wali murid telah mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit, dan bisa sampai menghabiskan rata-rata antara Rp 15 juta per walinya. Namun demikian, tradisi itu tetap dilaksanakan demi membuat senang anak-anaknya yang telah khatam.

"Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga masyarakat sekitar, apalagi dengan suguhan berbagai atraksi api yang menarik, sehingga banyak warga yang datang menonton sekaligus untuk mengaji," ujarnya.

Berita Terkait :


HOT NEWS