Ekonomi
Sabtu, 24 Desember 2016 - 17:34:44 | widarto / Sorot Purworejo

Tak Ada Pengurangan Alokasi Gas Melon, Masyarakat Diminta Tidak Resah
Tak Ada Pengurangan Alokasi Gas Melon, Masyarakat Diminta Tidak Resah
Ilustrasi by net.

Purworejo,(sorotpurworejo.com)--Fenomena kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau gas melon di sejumlah wilayah Purworejo akhir-akhir ini diklaim bukan karena kurangnya stok dari Pertamina atau ketersendatan distribusi dari agen. Sulitnya masyarakat mencari gas melon lebih disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat kelas menengah ke atas yang masih menggunakan gas melon yang diperuntukan bagi masyarakat kelas bawah.

Koordinator Agen Elpiji 3 Kg Wilayah Purworejo, Pandji Pranowo, saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa tidak ada pengurangan alokasi elpiji dari Pertamina untuk Purworejo. Sebaliknya justru ada penambahan selama menghadapi Natal dan Tahun Baru. “Bahkan ada penambahan alokasi bulan ini sekitar 11 persen. Jadi untuk Natal dan Tahun Baru dipastikan aman. Masyarakat tidak perlu resah,” katanya, Jumat (23/12/2016).

Disampaikan, persebaran gas melon di seluruh wilayah Purworejo saat ini telah merata dengan alokasi yang cukup. Terdapat sekitar 700 pangkalan dengan alokasi total 16.000 tabung per hari.

Menurutnya, adanya kabar kelangkaan di sebagian wilayah dinilai lebih disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat kelas menengah ke atas yang masih menggunakan gas melon yang diperuntukan bagi masyarakat kelas bawah. Yang lebih parah, banyak PNS turut menggunakannya.

“Di sejumlah kabupaten dan kota, seperti Wonosobo, para PNS dan masyarakat kelas atas sudah mendeklarasikan diri untuk tidak menggunakan elpiji bersubsidi. Purworejo perlu melakukannya didukung dengan Perda dari Pemerintah,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, adanya kelangkaan juga disebabkan oleh kepanikan warga. Sebagian warga yang memiliki tabung lebih dari 1 cenderung panik menghadapi Nataru sehingga mereka berlomba-lomba mengisi seluruh tabung yang dimilikinya. “Masyarakat terlanjur panic. Mereka yang memiliki tabung lebih dari satu berpikiran harus menyetok sehingga mengurangi jatah untuk warga lain,” lanjutnya.

Terkait mahalnya harga di sebagian wilayah, pihaknya menilai bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena permainan pangkalan. Melambungnya harga kerap disebabkan oleh panjangnya rantai distribusi di tingkat pengecer. “Banyak pengecer yang menjual jatahnya kembali kepada pedagang lain, dan oleh pedagang selanjutnya dijual kembali. Jadi terus terjadi peningkatan harga hingga ke tangan konsumen,” ungkapnya.

Ditegaskan, perlu adanya kesadaran masyarakat, baik warga kelas bawah, menengah, maupun atas dalam menggunakan elpiji. Masyarakat kelas atas harus bijaksana untuk tidak menggunakan elpiji bersubsidi. “Pertamina telah memberikan solusi untuk menggunakan Bright Gas (BG) ukuran 5,5 Kg dan dan 12 Kg yang lebih aman, nyaman, dan harganya terjangkau serta hemat. Kita sudah mulai memberikan sosialisasi melalui berbagai media, termasuk spanduk yang akan dipasang di sejumlah lokasi,” ungkapnya.

Berita Terkait :